Rabu, 27 Februari 2013

Tersenyumlah …...




Tertawa yang wajar itu laksana ‘balsem’ bagi kegalauan dan ’salep’ bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasulullah s.a.w. sendiri sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya.

Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun yang demikian itu adalah tertawa yang tak berlebihan, sebab banyak tertawa itu mematikan hati. Tertawalah sewajarnya saja, tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika,
{…….ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.}(QS. An-Naml:19)

Janganlah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir,
{…….tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.}(QS.Az-Zukhruf:47)

Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa,
{…….Maka pada hari ini orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir.}(QS. Al-Muthaffifin:34)

Pada dasarnya, Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak mengenal kemurama yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak beraturan. Akan tetapi Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah.

Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum. Langit, bintang dan burung-burung semuany tersenyum. Dan manusia, sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat, dan egoisme yang selalu membuat rona wajah tampak selalu kusut dan cemberut.

Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Bahkan ia memperlakukan suatu kesulitan: melihatnya lalu tersenyum, menyiasatinya lalu tersenyum, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau. setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai sesuatu yang amat besar dan memberatkan dirinya. Dan itulah yang acapkali yang menyebabkan semangat seseorang menurun dan asanya berkurang. Bahkan, tak jarang orang seperti ini berdalih dengan kata-kata “Seandainya….” “Kalau saja….” dan “Seharusnya…” Orang seperti sangatlah nista. Bukan zaman yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya. Bagaiman tidak, ia menginginkan keberhasilan dalam menjalani kehidupan ini, tapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat seseorang yang hendak berjalan tetapi selalu dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya, ia hanya menunggu langit menurunkan emasnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.

Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar, dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan kurang lebih demikian: “Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.” 

Tersenyumlah….Tersenyumlaah….Tersenyumlaaaah….
Smoga bermanfaat…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar