Rabu, 27 Februari 2013

Shalat dan Manusia Berbalut Cahaya




Oleh : KH A Hasyim Muzadi
Sadarkah kita, umat Islam, betapa spektakulernya figur anak manusia bernama Muhammad Bin Abdullah? Beliau ditetapkan sebagai nabi terakhir, tetapi ruhnya telah dipersiapkan oleh Allah SWT jauh-jauh hari sebelum Bapak Para Manusia, Nabi Adam As diciptakan. Baginda Rasul adalah manusia banyak dimensi karena dalam dirinya mengalir wahyu Allah.
Tak pernah meluncur dari kedua bibirnya yang mulia kecuali perkataan yang menyejukkan hati. Tak pernah ada sosok manusia di kolong langit ini yang helai-helai rambutnya jadi bahan rebutan para sahabatnya. Tak pernah kita temukan, figur manusia yang tetesan air wudhunya diburu oleh para pecintanya. Juga tak pernah kita temukan seseorang yang hamba, tetapi sesungguhnya menyunggi sebuah mahkota seorang raja diraja dari Robbul Izzati. Mustahil kita temukan seorang anak manusia yang tetesan air keringatnya dijadikan aroma para pengantin.
Kendati demikian, Baginda Rasul tetaplah seorang anak manusia yang memiliki semua sisi-sisi terhalus kemanusiaan. Maka begitu ditinggal wafat istri tercintanya, Sayyidah Khodijah al-Kubro, beliau seperti terhempas dari kenyataan hidup. Bahkan musibah seperti tiada henti ketika pada tahun yang sama, pelindung sejati dari ancaman kaum kafir, pamandanya Sayyidina Hamzah Bin Abdul Muthollib, juga wafat, yang hal ini membuat Baginda Rasul seperti tercerabut dari akar bumi.
Para sahabatnya tak mampu lagi menghibur karena derita begitu berat menghantam ulu hati terdalam. Maka ketika hidup tinggal menyisakan harapan, Kekasih Tertingginya, Allah SWT ''turun tangan'' memenuhi jiwa dan raganya. Dikirimlah Malaikat Jibril As. Malaikat spesialis ekspedisi wahyu-wahyu Tuhan ini sebagaimana dikehendaki Allah, lantas mengajak Baginda Rasul untuk melakukan sebuah tamasya menggemparkan yang tak pernah dilakukan oleh manusia mana pun. Bahkan sepanjang sejarah kehidupan ini.
''Mahasuci Allah'' yang ketika raga seperti gemeretak karena sendi-sendinya luruh dan jiwa seperti tercerabut diterbangkan entah ke mana, lalu pada tanggal 27 Rajab satu setengah abad yang lalu, Yang Mahakuasa memperjalankan Baginda Rasul di sepenggal malam menuju Singasana Tertinggi di Sidratil Muntaha. Tamasya ini lalu memunculkan perdebatan panjang bahkan mungkin hingga dunia benar-benar dilipat di akhir zaman.
Bukan memperdebatkan benar tidaknya peristiwa agung tersebut tetapi lebih kepada pertanyaan apakah Baginda Rasul pergi menghadap Allah secara jasmani atau ruhani atau secara kedua-duanya. Satu hal yang pasti, umat Islam mengimani semua prosesi perjalanan Baginda Rasul. Rupanya Allah telah mempersiapkan segala proses perjalanan menakjubkan tesebut bahkan hingga hal-hal yang sangat detail sekalipun.
Maka dimulailah perjalanan ini dengan proses awal pembedahan dada Baginda Rasul yang disucikan dengan air zamzam. Sebuah mata air dengan miliaran kekuatan ruhani. Begitu selesai, maka berangkatlah Baginda Rasul dengan Jibril menunggang Buroq, dari Masjidil Haram di Makkah al-Mukarromah menuju Masjidil Aqsa al-Muqaddas di Palestina. Perjalanan dengan jarak 1.500 kilometer itu hanya ditempuh tak lebih dari satu detik. Bagaimana ini bisa terjadi?
Tentu ini begitu mudah bagi Allah. Karena Jibril yang diciptakan dari cahaya bisa melesat dengan kecepatan supercahaya sedang cahaya memiliki kecepatan tak kurang dari 300 ribu kilometer per-jam. Maka jarak antara kedua masjid agung itu, hanya butuh waktu kurang dari satu detik. Pelengkap lainnya adalah kendaraan Buroq; yang artinya antara lain ''kilat''. Maka dimulailah Isra' dan Mi'raj.
Dialah manusia berbalut cahaya. Kalau baginda Rasul tidak sempat dibedah oleh Jibril, maka tak terbayangkan betapa besar risiko yang akan menimpa. Adakah sebuah kendaraan yang memiliki kecepatan seperti itu? Adakah manusia, dengan segala unsur materi yang ada pada dirinya, mampu bertahan dalam kecepatan semacam ini? Bukankah kalau itu terjadi, maka raganya akan tercerai berai karena terbetot gaya gravitasi bumi?
Dengan pesawat biasa saja, kita merasakan betapa beratnya terbang dengan kecepatan seperti itu. Lalu bagaimana dengan pesawat tempur yang kecepatannya melebihi angka tersebut? Tetapi, inilah sebuah peristiwa agung yang semuanya telah dipersiapkan oleh Allah Yang Mahaagung bagi seorang kekasih-Nya yang agung, Baginda Muhammad. Hanya beliaulah yang dipilih oleh Allah untuk bertandang ke Singgasana Arasy-Nya di Baytul Ma'mur. Untuk apa semua kehendak Allah dengan Isra' dan Mi'raj ini?
Kalau menyimak penggalan ayat Isra' dan Mi'raj dalam Alquran, maka dengan mudah kita akan menemukan sebuah isyarah nyata bahwa Dia tengah berkehendak memperlihatkan kepada Baginda Rasul sebagian dari ''tanda-tanda kekuasaan-Nya yang agung''; ''Linuriyahuu Min Aayaatinaa''. Untuk apa diperlihatkan kepada Baginda Rasul ini semua?
Untuk menghiburnya setelah datangnya mendung ''Aamul Huzni''; tahun kesedihan karena wafatnya Sayyidah Khodijah dan Sayyidina Hamzah. Untuk membesarkan hati baginda Rasul betapa tak terbayangkan kekuasaan Allah. Betapa hanya kepada Dia semua alam secara tulus bisa tunduk, luruh dan menghamba. Betapa hanya kepada Dia semua makhluk bergantung. Betapa kecilnya kita di sebuah planet kecil bernama bumi. Betapa kecilnya bumi di belantara miliaran planet lainnya di tata surya. Betapa kecilnya tata surya kita di bentangan triliunan supercluster alam semesta.
Maka begitu Baginda Rasul berhadap-hadapan dengan Allah, menjadi jelas seberapa agung hubungan antara hamba agung dengan Yang Mahaagung ini. Adakah pihak lain? Jibril pun tak kuasa sampai di sana. Walau ia tercipta dari cahaya. Walau bersamanya wahyu Allah selalu terjaga secara kudus. Walau dia perantara para nabi dengan Tuhannya. Dan seperti dituturkan dalam banyak riwayat, maka Allah SWT mengamanatkan shalat kepada semua umat Islam melalui Baginda Rasul.
Inilah sebuah fasilitas paling formal dalam Islam yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Inilah sebuah napak tilas yang disajikan oleh Allah kepada manusia agar bisa melakukan dialog dengan Allah sebagaimana dialog Baginda Rasul dengan Kekasihnya dalam peristiwa mi'raj yang agung. Betapa mudahnya hidup berketuhanan dan betapa murahnya ''ongkos'' perjalanan dialog menuju Tuhan.
Dialah shalat, sebuah medium yang dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat. Benar adanya penilaian bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyu pula ia memnafaatkan waktu-waktu shalatnya.
Shalat adalah kebutuhan jiwa, karena tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau tidak pernah merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, kita menyampaikan harapan dan keluhan kepada Dia Yang Mahakuasa. Maka sungguh teramat sangat buruk diri ini jika kita menghadapkan diri kita kepada Allah As-Shomad, hanya pada saat kita sebagai anak manusia didesak oleh kebutuhan yang menedera hidup. Wallaahu A'lamu Bishshowaab.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar