Minggu, 24 Juni 2012

budaya mencontek oleh bu mujahidah


BUDAYA  MENYONTEK  DI  DUNIA  PENDIDIKAN
Mujahidah[1]
Abstrak
Despite the fact that research into cheating has continued for several decades, cheating in higher education or university appears to be widespread and endemic. This may be particularly troublesome for business school students, who, according to some research, appear to cheat more than students in other curriculums. Many factors caused why some students cheat. Among the strongest correlates of cheating were having moderate expectations of success, having cheated in the past, studying under poor conditions, holding positive attitudes toward cheating, perceiving that social norms support cheating, and anticipating a large reward for success. Even, Technology is giving students new opportunities to cheat. Companies are developing products specifically designed to help students cheat. Although there are some resources and tools to help faculty monitor things such as plagiarism, technology is providing a continuous stream of new opportunities for students to cheat, oftentimes without a high likelihood of being caught. Beliefs and norms are one indicator for why students cheat, etc.


PENDAHULUAN
Perilaku menyontek merupakan fenomena yang sudah lama ada di kalangan pelajar. Menyontek (cheating atau academic cheating) adalah perbuatan curang, tidak jujur,  dan tidak legal dalam mendapatkan jawaban pada saat tes tes tertutup. Athanasou dan Olasehinder mengatakan bahwa menyontek adalah suatu bentuk penipuan dengan melakukan tindakan curang yang akan memberikan keuntungan bagi pelaku penyontek tersebut.[2]  Menurut Deighton, dikatakan sebagai tindakan curang dan penipuan karena menyontek merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak adil dan tidak jujur.[3]
Sebenarnya perilaku menyontek sudah lama terjadi, bila ditanya kapan perilaku menyontek mulai terjadi, tentu sulit menjawabnya, sesulit jika ditanya kapan manusia mulai berbohong. Tetapi ditengarai bahwa perilaku menyontek mulai terjadi seiring dimulainya penilain dalam dunia pendidikan. Perilaku menyontek tidak hanya terjadi dikalangan siswa, tetapi mahasiswa, bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru ataupun dosen juga biasa melakukan praktek menyontek.
Pada umumnya anak didik di sekolah dan perguruan tinggi pernah menyontek. Mereka melakukan praktek menyontek karena faktor lingkungan sekolah. Hal tersebut terungkap dalam survei litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007. Survei dilakukan dengan wawancara terstruktur dengan kuesioner melalui pesawat telepon kepada masyarakat di enam kota besar di Indonesia. Kota-kota tersebut meliputi Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Survei itu mencakup 480 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon residensial di kota-kota tersebut. Survei dilakukan untuk mencoba menguak maraknya kecurangan akademik di institusi pendidikan kita. Selain itu, survei dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul adanya kecurangan sebelum dan setelah Ujian Nasional (UN). Pertanyaannya, apakah integritas akademik begitu sulit untuk ditegakkan sehingga masih saja ditemukan kecurangan?
Hasil survei menyebutkan hampir 70% responden yang ditanya apakah pernah menyontek ketika masih sekolah atau kuliah menjawab pernah. Berarti, mayoritas responden penelitian pernah melakukan kecurangan akademik berupa menyontek.[4]
Secara formal, setiap sekolah atau institusi pendidikan lainnya telah memiliki aturan baku yang melarang para siswanya untuk menyontek. Akan tetapi, dalam prakteknya sangat sulit menegakkan aturan yang satu ini. Pemberian sanksi atas tindakan nyontek yang tidak tegas dan konsisten merupakan salah satu faktor maraknya perilaku nyontek.
Seiring semakin maraknya internet, maka perilaku menyontek pun juga semakin berkembang. Apabila siswa atau mahasiswa mendapat tugas dari guru atau dosen membuat makalah, maka mereka tinggal meng-copy- paste berbagai tulisan yang ada di internet. Kadang-kadang tulisan yang di-copy-paste-nya itu tidak dipahami terlebih dahulu isinya, sehingga tulisan itu langsung diserahkan kepada guru atau dosen, dengan sedikit editing menggantikan nama penulis aslinya dengan namanya sendiri atau mengganti fontnya (jenis huruf) dan ukuran fontnya.[5]
Lebih mengerikan justru tindakan nyontek dilakukan secara terencana dan konspiratif antara siswa dengan guru, tenaga kependidikan (baca: kepala sekolah, birokrat pendidikan, pengawas sekolah, dll) atau pihak-pihak lainnya yang berkepentingan dengan pendidikan, seperti yang terjadi pada saat Ujian Nasional. Jelas, hal ini merupakan tindakan amoral yang sangat luar biasa, justru dilakukan oleh orang-orang yang berlabelkan “pendidikan”. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkan kebohongan kepada siswanya, dan telah mengingkari hakikat dari pendidikan itu sendiri.[6]
Tulisan ini mencoba menguraikan tentang menyontek, tehnik menyontek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang menyontek.

PENGERTIAN PERILAKU MENYONTEK
Menyontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah, khususnya bila ada ulangan dan ujian. Menyontek berasal dari kata dasar sontek yang artinya mengutip atau menjiplak.[7] Kata mengutip sendiri diartikan menuliskan kembali suatu tulisan, sedangkan menjiplak diartikan menulis atau menggambar di atas kertas yang ditempelkan pada kertas yang dibawahnya bertulisan atau bergambar untuk ditiru.[8]
Beragam usaha usaha telah dilakukan untuk mendefinisikan perilaku menyontek. Menurut Godfrey  dan Waugh, menyontek adalah ketika ide dan materi yang sebenarnya bukan milik siswa atau mahasiswa yang bersangkutan diakui sebagai hasil karyanya sendiri.[9] Menyontek berarti mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri dengan cara-cara tertentu seperti menyalin karya orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut. Menurut Pincus dan Schemelkin perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja dilakukan ketika seseorang  mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas hasil belajarnya dari orang lain meskipun dengan cara tidak sah seperti memalsukan informasi terutama ketika dilaksanakannya evaluasi akademik.[10]
Thornberg memahami menyontek sebagai pengambilan atau permintaan bantuan yang tidak legal dalam tes.[11] Peters mengatakan bahwa menyontek sebagai bentuk perilaku moral yang menunjukkan ketidak jujuran siswa pada saat menikuti tes.[12] Bower mendefinisikan menyontek sebagai perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.[13] Surya memberi pengertian menyontek sebagai sebagai salah satu bentuk dari budaya jalan pintas, dan pelaku budaya jalan pintas lebih mementingkan hasil yang ingin dicapai tanpa mau mengalami maupun memperhatikan prosesnya.[14]
Berdasarkan beberapa pengertian yang diberikan beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah tindakan atau perilaku yang tidak jujur atau perbuatan curang yang dilakukan seseorang khususnya dalam pelaksanaan ujian ataupun penyelesaian akademis untuk mencapai tujuan tertentu.

TEHNIK MENYONTEK
Berdasarkan beberapa penelitian dapat diidentifikasi beberapa tehnik menyontek. Perilaku menyontek yang paling umum dilakukan oleh siswa maupun mahasiswa adalah menyalin jawaban dari teman terdekat dan melihat jawaban teman tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan. Hasil survei penelitian Davis dkk. Mengindikasikan bahwa sekitar 80% para penyontek biasanya menyalin dari kertas jawaban temanteman terdekat atau menggunakan kertas sontekan.[15]  Perilaku menyontek lainnya yang biasa dilakukan oleh siswa maupun mahasiswa selama ujian, ulangan maupun penyelesaian tugas akademis adalah:
1.      menanyakan jawaban pada teman,
2.      mendapatkan soal atau jawaban dari teman yang telah mengerjakan ualangan,
3.      melihat catatan,
4.      membantu teman menyontek pada saat ujian,
5.      menanyakan rumus untuk menjawab soal,
6.      mencari kepastian jawaban yang benar dari teman,
7.      menyalin hampir seluruh kata demi kata dari sumber dan mengumpulkan tugas sebagai hasil karya sendiri,
8.      melihat ragkuman materi,
9.      membiarkan orang lain menyalin tugas yang telah dikerjakan seorang siswa atau mahasiswa,
10.  menanyakan cara menjawab soal,
11.  mengumpulkan tugas yang telah dikerjakan oleh orang lain dengan merubah jenis hurufnya,
12.  menggunakan kode-kode tertentu untuk saling menukar jawaban
Selain hal tersebut di atas, siswa atau mahasiswa sering membuka buku saat ulangan dan ujian yang sebenarnya dilakukan secara 'closed books',[16] catatan yang difoto copy dalam ukuran kecil, tulisan-tulisan dalam ukuran kecil yang berisi rangkuman materi tes, serta teman dekat sebagai tempat bertanya.[17] Lebih lanjut Nur mengatakan bahwa tulisan yang digunakan untk menyontek tiadak hanya kertas, tetapi jugameja, dinding, penggaris, tissu, telapak tangan, bahkan paha.[18] Apabila ujian atau ulangan soalnya berbentuk pilihan ganda, beberapa pelajar telah memberi tanda A, B, C, dan D pada setiap ujung meja atau menggunakan alat bantu lain.[19]
Perkembangan zaman membuat tehnik menyontek semakin berkembang. Menurut Abramovitz, saat ini banyak siswa yang menggunakan alat penyeranta (pager) atau telpon genggam dalam keadaan 'silent' untuk memberikan jawaban kepada teman. Selain itu, dalam usaha menyelesaikan tugas, beberapa pelajar memanfaatkan kemajuan internet ataupun mengetik ulang tugas teman.[20] Hasil penelitian Smith menunjukkan bahwa pelajar juga mulai mempergunakan alat teknik tinggi untuk mencuri komputernya guru yang bisa mengakses password (kata sandi) dan mengakses jawaban yang tersimpan pada satu komputer.[21] Clark mengemukakan bahwa menyontek bisa juga dilakukan dengan merekam suara melalui MP3 dan telepon genggam, menggunakan kamera telepon genggam, tinta yang tidak bisa dilihat.[22]

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MENYONTEK
Berdasarkan beberapa penelitian, penulis mengakategorikan empat faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek, yaitu faktor situasional, faktor disposisional, faktor personal, dan faktor eksternal.

1.      Faktor Situasional
  1. Orientasi tujuan. Penelitian Newstead, dkk. menunjukkan bahwa mengejar nilai yang tinggi merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk menyontek.[23] Para pendidik sering terkadang menekankan pelajar untuk memperoleh nilai dan peringkat akademis daripada pemahaman materi pelajaran,[24] orang tua yang ingin anaknya meraih prestasi tinggi, ada yang menyadari kemampuan anaknya tidak terlalu baik sehingga tidak terlalu menuntut nilai tinggi, tetapi tetapmemberikan motivasi untuk berprestasi lebih baik, ada juga orang tua yang memahami kemampuan anaknya pas-pasan tetap menuntut prestasi tinggi demi gengsi dan kebanggaan, sehingga anak diamarahi jika mendapat nilai jelek.[25] Keller melaporkan bahwa 69% siswa menyebutkan tekanan pada nilai tinggi merupakan alasan kuat menyontek.[26]
  2. Kontrol atau pengawasan selama ujian. Jika suasana pengawasan ketat, maka kecenderungan menyontek kecil, sebaliknya jika suasana pengawasan longgar, maka kecenderungan menyontek menjadi lebih besar. Para pelajar berfikir bahwa pengawasan yang longgar dan kemungkinan kecil akan diketahui oleh pengawas berpengaruh besar terhadap keputusan untuk menyontek. Menurut Carolli bahwa siswa menyontek karena merasa perbutannya tidak akan diketahui oleh pengawas.[27]
  3. Banyaknya jumlah siswa dalam kelas. Padatnya populasi dalam satu kelas akan memudahkan pelajar menyontek. Jika kelas yang seperti ini menggunakan soal pilihan ganda akan memberikan peluang terjadinya menyontek.[28] Pengaturan tempat duduk juga akan sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya menyontek.[29]
  4. Kurikulum. Menyontek dipandang sebagai suatu bentuk strategi dalam menghadapi tuntutan kurikulum sekolah.[30] Ketika pelajar mengalami kesulitan dalam memahami dan menyerap materi pelajaran dan beban materi pelajaran yang harus dipelajari terlalu berat, maka beberapa pelajar pesimis dan terpaksa mencari jalan keluar dengan cara menyontek.[31]
  5. Pengaruh teman sebaya. Munculnya perilaku menyontek juga sangat ditentukan fatkor teman sebaya. Bila dalam kelas terdapat beberapa anak yang menyontek akan mempengaruhi anak yang lain untuk menyontek juga. Pada awalnya seseorang tidak bermaksud menyontek, tetapi karena melihat temannya menyontek, maka merekapun ikut menyontek.[32]
  6. Soal tes yang sulit. Praktek kecurangan atau menyontek terjadi karena terlalu sulitnya tugas yang diberikan, sulitnya soal yang dihadapi membuat pelajar merasa bahwa kemungkinan gagal akan sangat besar, untuk menghindarihal tersebut mereka rela melakukan tindakan menyontek.[33]
  7. Ketidaksiapan mengikuti ujian. Salah satu alasan yang membeut siswa tidak siap menhadapi ujian adalah kemalasan untuk belajar secara teratur dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Selain itu,  kebiasaan belajar hanya ketika mau ujian. Akibat sistem belajar yang seperti itu maka siswa tidak mampu menguasai seluruh materi yang akan diujikan secara optimal, sehingga lebih mengandalkan menyontek.[34]

2.      Faktor Disposisional
  1. Iklim akademis sekolah. Pada umumnya peneliti meyakini bahwa iklim di sekolah ataupun Perguruan Tinggi telah mengikis pernyataan 'siapa yang menyontek akan mendapat hukuman'. Kurangnya perhatian dari sekolah dan Perguruan Tinggi terhadap menyontek mengakibatkan pelajar menyimpulkan bahwa kalau tidak menyontek berarti mereka terlalu bodoh karena tidak memanfaatkan kesempatan.[35]
  2. Intelegensi. Penelitian Eisenberger dan Shank menunjukkan bahwa siswa yang berintelegensi lebih rendah lebih sering menyontek dari pada yang berintelegensi tinggi. Selain itu, siswa yang beretika kerja personal tinggi lebih cenderung mampu menahan diri untuk tidak menyontek daripada mereka dengan etika kerja personal rendah.[36]

3.      Faktor Personal
  1. Kurang percaya diri. Siswa atau mahasiswa yang menyontek memiliki kepercayaan diri yang minimal terhadap kemampuan diri sendiri. Oleh karena itu, mereka akan berusaha mencari penguat dari pihak lain seperti teman-temannya dengan cara bertanya, atau bisa juga dari buku-buku catatan yang telah dipersiapkan sebelumnya.[37]
  2. Self-esteem dan need for approval. Menuru Lobel dan Levanon,  kecil kemungkinannya untuk menyontek bagi siswa dengan self-esteem tinggi dan need for approval yang rendah. Akan tetapi, bagi siswa yang memiliki self-esteem dan need for approval yang sama-sama tinggi kemungkinan akan menyontek seperti halnya siswa yang memiliki self-esteem yang rendah.[38]
  3. Ketakutan terhadap kegagalan. Sumber utam ketakutan terhadap kegagalan adalah ketidaksiapan menghadapi ujian tetapi yang bersangkutan tidak mau menundanya dan juga tidak mau gagal.[39] Selain itu diperkuat pengalaman kegagalan pada tes-tes sebelumnya. Menurut Vitro dan Schoer kegagalan dalam suatu tes lebih sering diikuti oleh tindakan menyontek pada tes berikutnya bila dibandingkan dengan keberhasilan.[40]
  4. Kompetisi dalam memperoleh nilai dan peringkat akademis. Hasil penelitian Burns dkk. menunjukkan bahwa persaingan dalam memperolah nilai yang tinggi dan peringkat yang tinggi memicu terjadinya menyontek.[41] Nilai yang tinggi akan berpengaruh pada peringkat akademis di kelas dan pering kat akademis di kelas dapat meningkatkan citra diri siswa. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari jalankeluar dengan cara menyontek agar dapat mempertahankan citra diri yang positif.

4.      Faktor Demografi
  1. Jenis kelamin. Beberapa hasil penelitian tentang hubungan gender dengan menyontek cenderung tidak konsisten. Perempuan cenderung lebih sedikit menyontek dibandingkan dengan laki-laki. Akan tetapi, beberapa penelitian menemukan korelasi yang sangat lemah diantranya. Hasil penelitian yang dilakukan Davis dkk. menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak menyontek dari pada perempuan. Pada umumnya perempuan merasakan belajar senagai hal yang menyenangkan dan memberi kepuasan sehingga tidak suka menyontek.[42]
  2. Usia. Faktor usia sebenarnya tidak terlalu berperan dalam kemungkinan seseorang menyontek.[43] Tetapi menurut Newstead dkk. bahwa mahasiswa dengan usia yang lebih muda lebih sering menyontek dari pada siswa dengan usia yang lebih tua.[44]
  3. Peringkat/nilai. Perilaku menyontek seringkali dikaitkan dengan nilai atau peringkat. Menurut Witley siswa dengan nilai lebih rendah kemungkinan lebih besar menyontek daripada siswa yang memiliki nilai tinggi.[45] Meski demikian beberapa penelitian lain diketahui bahwa nilai atau peringkat sering berkorelasi negative dengan perilaku menyontek.
  4. Moralitas. Penilain moral dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menilai suatu tindakan dari sudut pandang kebaikan, keburukan, kebenaran, dan kesalahan serta memutuskan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan penilaian yang telah dilakukan. Permasalahannya bahwa keputusan yang telah dibuat tidak selalu diikuti oleh tindakan yang sesuai dengan keputusan tersebut.[46]

KESIMPULAN
Perilaku menyontek merupakan fenomena yang sudah lama ada di kalangan pelajar. Menyontek (cheating atau academic cheating) adalah perbuatan curang, tidak jujur,  dan tidak legal dalam mendapatkan jawaban pada saat tes tes tertutup. Perilaku menyontek sudah terjadi seiring dimulainya penilain dalam dunia pendidikan. Perilaku menyontek tidak hanya terjadi dikalangan siswa, tetapi mahasiswa, bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru ataupun dosen juga biasa melakukan praktek menyontek.
Pada umumnya anak didik di sekolah dan perguruan tinggi pernah menyontek. Mereka melakukan praktek menyontek karena empat faktor, yaitu:
1.      Faktor Situasional, meliputi: orientasi tujuan, kontrol atau pengawasan selama ujian, banyaknya jumlah siswa dalam kelas, kurikulum, pengaruh teman sebaya, soal tes yang sulit, dan ketidaksiapan mengikuti ujian.
2.      Faktor Disposisional, meliputi: iklim akademis sekolah dan intelegensi.
3.      Faktor Personal, meliputi: kurang percaya diri, Self-esteem dan need for approval, ketakutan terhadap kegagalan, dan kompetisi dalam memperoleh nilai dan peringkat akademis.
4.      Faktor Demografi, meliputi: jenis kelamin, usia, peringkat/nilai, dan moralitas.

DAFTAR PUSTAKA



Abdullah Alhadza. "Masalah Perilaku Menyontek (cheating)  Di Dunia Pendidikan". http://depdiknas.go.id/jurnal/38. Diakses pada tanggal 25 Januri 2008.

Abramovitz, M. 2000. "Why Cheating is Wrong?" Journal Current Health 2, 27 (2).

Athanasou, J. dan O. Olasehinde. 2002. "Male and Female Differences in Self-Report Cheating". Journal Practical Assessment, Research and Evaluation, VIII (5).

Burns, S.R., Davis, S.F,. Hoshino, J., Miller, R.L. 1988. "Academic Dishonesty: A Delineation of Cross-cultural Patterns". College Students Journal, 32 (4), 590-597.

Caroli, C.A. 2004. "Cheating is Pervasive Problem in Education, Forum Participants say". Education Week, 23 (24), 10.

Clark, L.. "Pupils Tempted by Hi-Tech Online Cheat Aid". Http://www.news.com.au/dailytelegraph/story/0,22049,22266563-5006007.00.html.

Davis, S.F.,Grover,C.A., Becker,.A.H. &McGregor,L.N. 1992. "Academic dishonesty: Prevalence, Determinants, Techniques and Punishmenta". Teaching of Psychology, 19 (1), 16-20.

Godfrey, J.R., Waugh,R., Evans, E., & Craig, D. 1993. "Measuring Student Perception About Cheating: A Cross-cultural comparison". A Paper presented at the Australian Assosiation for Research in Education Annual Conference. http://www.aare.edu.au/93pap/godfj93079.txt.

Houston, J.P. 1987. ”Curve linear Relationship among Anticipated Success, Cheating Behavior, Temptation to Cheat, and Perceived Instrumentality of Cheating”. Journal of Educational Psychology,70, (5),  758-762.  

Klein,H.A., Levenburg, N.M., McKendall,M., & Mothersell,W.. 2007. ”Cheating During the College Years: How do Business School Students Compare?”. Journal of Business Ethics, 72 (10), 197-206.

Lim dan See. 2001. ”Attitude Toward, and Intentions to Report, Academic Cheating among Students in Singapore”. Ethics and Behavior Journal, 11 (3), 261-275. 

Lobel dan Levanon. 1988. ”Self-esteem, Need for Approval and Cheating Behavior in Children. Journal of Educational Psychology, 80 (1), 122-123.

Nur, Hadi. "Aspek Penting dalam Riset dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia". http://www.geocities.com/hadinur/diskusi-3.html.

Newstead, S.E., Stokes, A.F., & Armstead, P. 1996. ”Individual Difences in Student cheating". Journal of Educational Psychology, 88, (2), 229-241.

Peters, R.S. 1981. Moral Development and Moral Education, (London: George Allen and Unwin, Ltd.

Pincus & Schemelkin, L.P..2003. "Faculty Perception of Academic Dishonesty: A Multidimensional Scaling Analysis. Journal of Higher Education. 74 (2),  196.

Santoso, T. 1991. Menyontek Bukan Seni. Dalam Kartini Kartono (ed.). Bimbingan Bagi Anak Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali Press.

Setya, R.A. 2005. ”Sumbangan Orientasi Tujuan terhadap Perilaku Menyontek”. Tesis. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Tidak dipublikasikan.

Sudrajat, A.. 2008. ”Perilaku Menyontek dalam Pendidikan”. Let's talk about Education. Diambil dari   http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/02/

Sujana. 1994. ”Hubungan Antara Kecenderungan Pusat Kendali Internal dengan Intensi Menyontek”. Jurnal Psikologi, Vol. 21. h. 18.

Surya, I.. "Siswa Menyontek Mengapa Masih Saja Berjalan?" Http://www.bpk.penabur.or.id.kps-jkt/wydiaw/57/artikel-l.html.

Smith, M. 2007. "Hi-Tech Cheating: A Study of Student Attitudes on Academic Dishonesty Involving The Use of Information Technology". Thesis, (Lousiana State University: Unpublished.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Thornberg, H.D. (1982). Development in Adolesence. California: Wadsworth, 1982.

Widiawan, Kiswanto. "Menyontek Jadi Budaya Baru" Pokok Pikiran 2 Karya Wiyata 72 Tahun XVIII September-Oktober 1995. Diambil dari http://depdiknas.go.id/jurnal/38

Witley, B.E. 1998. ” Factors Associated With Cheating Among college students: A review”. Research in Higher Education, 39, (3).


                [1]Dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda.

[2]J. Athanasou dan O. Olasehinde, ”Male and Female Differences in Self-Report Cheating”. JournalPractical Assessment, Researh and Evaluation.Vol. VIII (5), 2002.

[3]Deighton dalam Abdullah Alhadza. ”Masalah Perilaku Menyontek (cheating)  Di Dunia Pendidikan”. http://depdiknas.go.id/jurnal/38. Diakses pada tanggal 25 Januri 2008.
[4]”Mayoritas Siswa-Mahasiswa Menyontek”. http:///www.sampoernafondation.org. Diakses pada tanggal 25 Januari 2008.

[5]Hal ini didasarkan pada pengalaman penulis dalam menerima beberapa tugas mahasiswa dan sharing dengan beberapa guru SLTA.

[6]Ahmad Sudrajat. ”Perilaku Menyontek dalam Pendidikan”. Let's talk about Education. Diambil dari  http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/02.  Diakses pada tanggal 25 Januri 2008.

[7]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), h. 98.

[8]Ibid.

[9]J.R. Godfrey dkk. "Measuring Student Perception About Cheating: A Cross-cultural comparison". A Paper presented at the Australian Assosiation for Research in Education Annual Conference. http://www.aare.edu.au/93pap/godfj93079.txt. Diakses pada tanggal 10 November 2007.

[10]Pincus dan L.P. Schemelkin. "Faculty Perception of Academic Dishonesty: A Multidimensional scaling Analysis. Journal of Higher Education.  74, (2), h. 196. 2003

[11]H.D. Thornberg. Development in Adolesence, (California: Wadsworth, 1982), h. 67
[12]R.S. Peters. Moral Development and Moral Education, (London: George Allen and Unwin, Ltd., 1981), h. 89.

[13]Bower dalam Abdullah Alhadza. Loc.cit.

[14]I. Surya. "Siswa Menyontek Mengapa Masih Saja Berjalan?" Http://www.bpk.penabur.or.id.kps-jkt/wydiaw/57/artikel-l.html. Diakes pada tanggal 17 April 2008.

[15]S.F. Davis dkk. "Academic dishonesty: Prevalence, Determinants, Techniques and Punishment". Teaching of Psychology, 19, (1), 16-20, 1992
[16]Blackburn dalam Riesza Andarwanty Setya. ”Sumbangan Orientasi Tujuan terhadap Perilaku Menyontek”. Tesis, (Fakultas Psikologi Universitas Indonesia: Tisak dipublikasikan, 2005), h. 35.

[17]H. Nur. "Aspek Penting dalam Riset dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia". http://www.geocities.com/hadinur/diskusi-3.html. Diakses pada tanggal  17 April 2008.
[18]Ibid.

[19]Davis dkk..loc.cit.

[20]M. Abramovitz. "Why Cheating is Wrong?" Journal Current Health 2, 27 (2),2000.

[21]Michel Smith. "Hi-Tech Cheating: A Study of Student Attitudes on Academic Dishonesty Involving The Useof Information Technology". Thesis, (Lousiana State University, 2007), h. 1.

[22]L. Clark. "Pupils Tempted by Hi-Tech Online Cheat Aid". Http://www.news.com.au/dailytelegraph/story/0,22049,22266563-5006007.00.html. Diakses pada tanggal 1 Mei 2008.
[23]S.E. Newstead, dkk.."Individual Difences in Student cheating". Journal of Educational Psychology, 88, 2, 229-241. 1996

[24]T. Santoso. Menyontek Bukan Seni. Dalam Kartini Kartono (ed.). Bimbingan Bagi Anak Remaja yang Bermasalah, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), h. 49-52

[25]Kiswanto Widiawan. "Menyontek Jadi Budaya Baru" Pokok Pikiran 2 Karya Wiyata 72 Tahun XVIII September-Oktober 1995. Diambil dari http://depdiknas.go.id/jurnal/38

[26]Keller dalam Davis, dkk..loc.cit.

[27]C.A. Caroli. "Cheating is Pervasive Problem in Education, Forum Participants say". Education Week, 23 (24), 10. 2004 
[28]Davins dkk..loc.cit.

[29]Baird dalam Burns dkk.. "Academic Dishonesty: A Delineation of Cross-cultural Patterns". College Students Journal, 32 (4), 590-597. 1998.  

[30]Lim dan See. ”Attitude Toward, and Intentions to Report, Academic Cheating among Students in Singapore”. Ethics and Behavior Journal, 11 (3), 261-275. 2001  

[31]Burn dkk.. Op.cit., h. 590-597

[32] Burn dkk.. loc.cit.
[33]Sukadji dalam Sujana. ”Hubungan Antara Kecenderungan Pusat Kendali Internal dengan Intensi Menyontek”. Jurnal Psikologi, Vol. 21. h. 18, 1994

[34]Sujana.op.cit.

[35]T.S. Harding, dkk. dalam setya. ”Sumbangan Orientasi Tujuan terhadap Perilaku Menyontek”. http://www.infoskripsi.com/Research/.html. Diakses pada tanggal 25 Januari 2008

[36]Davis dkk.. loc.cit

[37]Sujana, loc.cit.

[38]Lobel dan Levanon. ”Self-esteem, Need for Approval and Cheating Behavior in Children. Journal of Educational Psychology, 80 (1), 122-123, 1988.

[39]Abdullah Alhadza. Loc.cit.

[40]Houston. ”Curve linear Relationship among Anticipated Success, Cheating Behavior, Temptation to Cheat, and Perceived Instrumentality of Cheating”. Journal of Educational Psychology,70, (5),  758-762. 1987.    

[41]Burn dkk.. Op.cit., h. 590-597.

[42]Davins dkk..loc.cit.

[43]Klein, dkk. ”Cheating During the College Years: How do Business School Students Compare?”. Journal of Business Ethics, 72 (10), 197-206. 2007

[44]Newstead, dkk.. loc.cit.

[45]Witley. ”Factors Associated With Cheating Among college students: A review”. Research in Higher Education, 39, (3), 1998.

[46]Sujana, loc.cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar